weLc0me !!

Sabtu, 30 Januari 2010

Koin Cinta Bilqis


Bilqis Anindya Passa, bayi usia 17 bulan ini mengidap penyakit dimana saluran empedu tidak terbentuk atau tidak berkembang secara normal (Atresia Bilier). Untuk menyembuhkannya harus dilakukan operasi transplantasi hati yang membutuhkan dana sekitar Rp 1 miliar.
Terinsiprasi dari gerakan Koin Keadilan untuk Prita Mulyasari, Ibunda Bilqis, Dewi Farida (37) mencoba menggalang dana untuk biaya operasi putri keduanya itu dengan membentuk gerakan Koin Cinta untuk Bilqis.
“Kita hopeless. Saya terinspirasi dengan koin Prita, kita coba mulai dari Facebook untuk menggalang dana,” ujar Dewi saat berbincang dengan detikcom di kediamannya, Jl Kramat sentiong, Gg Mesjid No E 87 F, RT 007/RW 06, Jakarta, Senin (26/1).
Bilqis yang lahir pada 20 Agustus 2008 ini baru diketahui mengidap Atresia Bilier saat usianya menginjak 2 minggu. Sekujur tubuhnya menghitam dan kekuningan. Perutnya buncit dan gatal diseluruh tubuhnya. Kotorannya pun berwarna kuning pucat.
“Dokter menganjurkan untuk secepatnya di operasi. Tapi kita masih terhambat dengan biaya,” tutur Dewi.
Selama perawatannya, Bilqis sudah menghabiskan dana sekitar Rp 400 juta. Setiap bulan Bilqis harus ke rumah sakit karena kondisi tubuhnya rentan sekali dengan penyakit.
“Kalau diare bisa sampai 20 kali. Minimal 5 hari di rumah sakit. Sekali ke rumah sakit bisa habiskan sekitar Rp 32 juta,” ujar wanita berusia 37 tahun ini.
Putri kedua pasangan Donny Ardianta Passa (33) dan Dewi Farida (37) ini harus segera menjalani operasi transplantasi hati yang hanya bisa dilakukan di luar negeri karena belum adanya peralatan dan dokter yang memadai di Indonesia. Usaha kedua pasangan ini dalam menggalang dana melalui situs jejaring sosial pun tidak sedikit menuai sindiran di dalam perjalanannya.
“Saya tidak peduli orang bilang apa. Tapi mau bagaimana lagi karena tidak ada biaya. Biar kepala jadi kaki, kaki jadi kepala saya bela-belain untuk Bilqis bisa sembuh. Saya sudah hopeless tapi yang membuat saya yakin adalah Prita saja bisa mendapat dukungan yang banyak, mudah-mudahan Bilqis juga bisa,” ucapnya.
Sejak terbentuknya gerakan Koin Cinta untuk Bilqis pada 25 Desember 2008 lalu, dana yang sudah terkumpul mencapai Rp 90 juta. Sekitar 10 posko bantuan untuk Bilqis sudah terbentuk di seluruh Indonesia untuk memudahkan bantuan.
“Kita mau bikin charity juga dengan menjual pin dan gelang di internet. Mudah-mudahan masyarakat antusias mendapatkan suvenir itu,” ungkapnya.
Kisah Bilqis, Bayi Pengidap Atresia Bilier
Tubuh mungilnya ringkih dan perutnya membuncit. Kulitnya menghitam dan matanya kekuningan. Ciri fisik yang tidak biasa pada bayi usia di bawah lima tahun. Senyum kecilnya menyiratkan kesakitan yang tidak bisa diungkapkan. Bibir kecilnya seolah berkata ‘Aku ingin sembuh’.
“Sakitnya baru ketahuan 2 minggu setelah melahirkan,” ujar Dewi Farida, ibunda Bilqis.
Bilqis Anindya Passa, bayi usia 17 bulan ini mengidap penyakit Atresia Bilier. Atresia Bilier adalah suatu keadaan dimana saluran empedu tidak terbentuk atau tidak berkembang secara normal. Hal ini bisa menyebabkan kerusakan hati dan sirosis hati, yang jika tidak segera diobati bisa berakibat fatal.
“Umur 50 hari dioperasi (operasi kasai) untuk mengangkat saluran empedu kemudian disambung ke usus 12 jari. Ternyata setelah di operasi, di cek hatinya sudah hitam dan rusak,” kata wanita berusia 37 tahun ini.
Bilqis yang lahir pada 20 Agustus 2008 ini hanya bisa makan makanan dalam bentuk cair karena ususnya tidak bisa bekerja normal seperti usus bayi sehat pada umumnya. Makanannya antara lain sayuran yang telah dikukus kemudian diblender dan di saring kembali. Asi dan susu botol tetap menjadi asupan utama untuk memperkuat fisiknya.
“Sempat muntah darah dan kotorannya juga berdarah. Dua kuku jari telunjuknya copot karena menggaruk badannya yang gatal karena racun di dalam tubuhnya tidak bisa dinetralisir,” tutur Dewi.
Semakin hari kondisi tubuh Bilqis semakin ringkih dan rentan terhadap penyakit. Untuk menguatkan fisiknya, Dewi melakukan terapi akupunktur kepada Biliqis selama 10 hari.
“Bukan untuk menyembuhkan, tapi hanya memperkuat fisiknya saja. Untuk menyembuhkan harus operasi transplant hati,” ujar Dewi.
Kondisi kesehatan Bilqis sudah memasuki tahap akhir dan harus segera menjalani operasi transplantasi hati. Operasi tidak bisa dilakukan di Indonesia karena belum ada dokter ahli yang memadai dan alat operasi yang mendukung.
“Dokternya menyarankan untuk segera di operasi. Dokter merekomendasikan operasi dilakukan di Jepang yang membutuhkan dana berkisar Rp 1 miliar,” tutupnya. (detikcom/o)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar